Ada kalanya seorang anak yang sebelumnya biasa bermain dengan anak-anak lain tiba-tiba menjadi lebih berhati-hati. Ketika bertemu teman sebaya, ia memilih bersembunyi di belakang orang tuanya, tidak mau mendekat, atau hanya mengamati dari jauh.
Perubahan seperti ini bisa terjadi setelah anak mengalami pengalaman yang membuatnya merasa tidak aman, misalnya pernah hendak dipukul, didorong, diteriaki, atau mengalami kejadian lain yang membuatnya takut.
Dalam situasi seperti ini, orang tua sering berada di antara dua kekhawatiran: ingin melindungi anak, tetapi juga tidak ingin anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah anak yang penakut.
Perasaan takut bukan berarti anak adalah anak penakut
Hal pertama yang penting dipahami adalah membedakan antara perasaan dan identitas.
Anak bisa merasa takut tanpa berarti ia adalah anak yang penakut.
Kalimat seperti:
“Kamu memang penakut.”
atau
“Kamu selalu takut kalau ketemu anak-anak.”
bisa membuat pengalaman sementara terasa seperti sebuah identitas.
Sebaliknya, orang tua dapat menggunakan bahasa yang menggambarkan keadaan saat ini:
“Kamu belum siap dekat-dekat.”
“Kamu masih ingin melihat dulu.”
“Tidak apa-apa, kita pelan-pelan.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa rasa takut adalah sesuatu yang bisa datang dan pergi. Ia tidak harus mendefinisikan dirinya berdasarkan perasaan tersebut.
Tidak perlu memaksa anak untuk langsung berani
Ketika anak bersembunyi di belakang orang tua, respons pertama tidak harus berupa:
“Ayo keluar.”
“Jangan takut.”
“Masa sama teman sendiri takut?”
Anak yang sedang merasa tidak aman biasanya lebih membutuhkan rasa aman daripada tuntutan untuk segera berani.
Orang tua bisa mengatakan:
“Ibu di sini.”
“Kamu boleh lihat dulu.”
“Kalau sudah siap, kita bisa mendekat pelan-pelan.”
Memberikan waktu bukan berarti membiarkan ketakutan menguasai anak. Justru dari rasa aman itulah anak dapat belajar menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman secara bertahap.
Orang tua sebagai tempat aman
Orang tua dapat menjadi tempat anak kembali ketika ia merasa takut.
Anak boleh bersembunyi sebentar. Setelah tenang, orang tua dapat membantu anak mengamati situasi dari jarak yang nyaman.
Tidak harus langsung bermain bersama.
Prosesnya bisa berlangsung bertahap:
melihat dari jauh → berada di tempat yang sama → bermain di dekat anak lain → mulai berinteraksi → bermain bersama.
Setiap anak memiliki kecepatan yang berbeda.
Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
Bagaimana jika orang tua sendiri merasa takut?
Orang tua juga manusia. Merasa cemas, khawatir, atau tidak nyaman dalam situasi tertentu bukan sesuatu yang harus disembunyikan dengan berpura-pura selalu berani.
Yang penting adalah bagaimana perasaan tersebut ditunjukkan kepada anak.
Orang tua dapat berusaha menunjukkan sikap yang tenang:
“Ibu lihat ada teman datang. Kita lihat dulu, ya.”
Daripada menunjukkan kepanikan atau langsung menyampaikan kepada anak bahwa situasi tersebut berbahaya.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari cara orang tua menghadapi situasi.
Karena itu, tujuan orang tua bukan menjadi sosok yang tidak pernah takut, melainkan menunjukkan bahwa rasa takut dapat dihadapi dengan tenang dan bertahap.
Jangan mengajarkan bahwa dunia selalu berbahaya
Melindungi anak bukan berarti membuatnya menghindari semua situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Ada perbedaan antara:
“Ibu akan menjagamu.”
dan
“Kamu harus menghindari semua anak karena mereka berbahaya.”
Pesan pertama memberikan rasa aman.
Pesan kedua dapat membuat anak semakin yakin bahwa lingkungan sosial adalah sesuatu yang harus selalu ditakuti.
Karena itu, orang tua dapat memberikan perlindungan sekaligus kesempatan kepada anak untuk belajar bahwa tidak semua pertemuan akan berakhir buruk.
Mengajarkan batasan kepada anak
Selain mengajarkan keberanian, anak juga perlu belajar bahwa ia berhak menjaga dirinya.
Anak dapat diajarkan kalimat sederhana seperti:
“Jangan pukul.”
“Aku tidak suka.”
“Jangan begitu.”
“Tolong, Ibu.”
“Aku mau pergi.”
Anak tidak harus membalas ketika dipukul atau diganggu. Ia dapat menjauh dan mencari orang dewasa yang dipercaya.
Dengan demikian, keberanian tidak selalu berarti berani melawan. Kadang keberanian berarti mampu mengatakan tidak, menjauh, dan meminta bantuan.
Bagaimana berbicara kepada orang lain?
Tidak semua orang perlu mengetahui cerita lengkap mengenai pengalaman anak.
Orang tua dapat memberikan penjelasan sederhana:
“Dia masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Jadi untuk sekarang, biarkan dia mengamati dulu dan jangan dipaksa mendekat.”
Penjelasan seperti ini menjaga privasi anak sekaligus membantu lingkungan memahami kebutuhannya.
Jika berbicara kepada anak-anak lain, gunakan kalimat yang sederhana:
“Pelan-pelan ya. Dia masih ingin melihat dulu. Jangan mengejar atau memaksa.”
Tujuannya bukan membuat anak lain merasa bersalah, tetapi menciptakan interaksi yang lebih aman dan nyaman.
Jangan takut anak akan selamanya menjadi penakut
Satu fase dalam kehidupan anak tidak menentukan seluruh kepribadiannya.
Seorang anak bisa takut hari ini dan menjadi lebih percaya diri beberapa waktu kemudian.
Ia bisa bersembunyi hari ini dan suatu hari nanti menjadi anak yang aktif bermain.
Yang paling membantu adalah tidak mengubah rasa takut sementara menjadi sebuah label permanen.
Daripada mengatakan:
“Kamu anak penakut.”
lebih baik mengatakan:
“Sekarang kamu masih merasa takut. Kita hadapi pelan-pelan.”
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Yang pertama mengatakan “ini adalah dirimu.”
Yang kedua mengatakan “ini adalah perasaanmu saat ini.”
Pada akhirnya, anak membutuhkan dua hal
Anak yang sedang takut membutuhkan rasa aman sekaligus kesempatan untuk mencoba.
Bukan dipaksa.
Bukan pula terus-menerus dilindungi sampai ia tidak memiliki kesempatan untuk mencoba.
Orang tua dapat berdiri di dekatnya, memberikan rasa aman, lalu perlahan membiarkan anak mengambil langkahnya sendiri.
Mungkin awalnya hanya berani melihat.
Kemudian berdiri tidak jauh dari orang tua.
Lalu bermain di dekat teman.
Dan suatu hari, mungkin anak akan mendekati temannya sendiri.
Tidak perlu terburu-buru.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak terlihat berani di depan orang lain, melainkan membantu anak memiliki keyakinan:
“Aku aman. Aku boleh mengatakan tidak. Aku boleh meminta bantuan. Dan ketika aku siap, aku bisa mencoba.”

0 comments:
Posting Komentar