Ada kalanya kita bertemu seseorang yang memiliki kepribadian kuat, tegas, atau cenderung dominan. Tidak selalu ada sesuatu yang buruk terjadi dalam interaksi tersebut. Namun anehnya, setelah pertemuan selesai, tubuh dan pikiran justru tidak langsung tenang.
Kita mungkin sudah kembali ke rumah, sudah berganti aktivitas, bahkan sudah melewati satu hari. Tetapi rasa tidak nyaman masih ada.
Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti:
“Tadi aku salah bicara tidak?”
“Apa aku melakukan sesuatu yang membuat dia tidak suka?”
“Kenapa aku merasa seperti ada yang salah denganku?”
Padahal belum tentu ada masalah apa pun.
Dominan tidak selalu berarti buruk
Orang yang dominan biasanya lebih mudah mengambil keputusan, menyampaikan pendapat, memimpin pembicaraan, atau mengarahkan keadaan.
Dominan berbeda dengan agresif dan berbeda pula dengan controlling.
Seseorang bisa tegas tanpa merendahkan orang lain. Seseorang juga bisa memiliki kepribadian kuat tetapi tetap menghargai batasan dan pendapat orang lain.
Karena itu, ketika kita merasa takut terhadap seseorang yang dominan, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut berbahaya atau bahwa diri kita lemah.
Bisa jadi ada sesuatu yang terjadi di dalam diri kita sendiri: tubuh sedang merasa perlu berjaga-jaga.
Mengapa kita bisa sangat takut salah?
Bagi sebagian orang, kesalahan mungkin terasa seperti hal biasa.
Salah bicara bisa diperbaiki. Salah mengambil keputusan bisa dibicarakan. Tidak disukai seseorang juga bukan akhir dari dunia.
Namun bagi seseorang yang pernah mengalami situasi di mana kesalahan mendapat respons yang sangat keras, mempermalukan, atau membuat dirinya merasa tidak aman, pengalaman itu bisa meninggalkan pola kewaspadaan.
Akhirnya, ketika bertemu orang yang memiliki suara tegas, ekspresi kuat, atau kepribadian dominan, tubuh bisa bereaksi seolah-olah sedang menghadapi ancaman.
Bukan karena kita sengaja ingin takut.
Bukan pula karena kita ingin mencari-cari masalah.
Tubuh hanya sedang menggunakan pola yang dulu dipelajarinya untuk melindungi diri.
Setelah pertemuan selesai, mengapa rasa tidak nyaman masih ada?
Ini salah satu bagian yang paling membingungkan.
Kita mungkin berpikir:
“Kan sudah selesai. Kenapa aku masih kepikiran?”
Karena pikiran dan tubuh tidak selalu selesai pada waktu yang sama.
Secara logis, kita tahu bahwa pertemuan sudah berakhir. Tetapi tubuh mungkin masih berada dalam keadaan waspada.
Kemudian pikiran mencoba mencari jawaban:
“Apa tadi aku salah?”
Kita mengulang percakapan di kepala.
Mengingat ekspresi orang tersebut.
Menganalisis kata-kata yang kita ucapkan.
Mencari kemungkinan kesalahan.
Sayangnya, semakin sering kita melakukan ini, semakin otak merasa bahwa memang ada sesuatu yang harus dicari.
Padahal terkadang yang perlu diselesaikan bukanlah suatu masalah dari pertemuan tersebut, melainkan rasa tidak aman yang tertinggal di dalam tubuh.
Perasaan tidak aman bukan selalu bukti bahwa kita melakukan kesalahan
Ini hal yang penting untuk diingat:
Merasa bersalah tidak selalu berarti kita bersalah.
Merasa terancam tidak selalu berarti kita sedang berada dalam bahaya.
Merasa ada sesuatu yang salah tidak selalu berarti memang ada sesuatu yang salah.
Perasaan adalah informasi tentang kondisi batin kita, tetapi perasaan bukan selalu bukti tentang keadaan di luar diri kita.
Karena itu, ketika muncul rasa tidak nyaman setelah berinteraksi dengan seseorang, kita bisa bertanya:
“Apa fakta yang benar-benar terjadi?”
Kemudian pisahkan dengan:
“Apa yang sebenarnya hanya aku takutkan?”
Misalnya:
Fakta: “Aku berbicara dengan seseorang dan percakapan sudah selesai.”
Ketakutan: “Aku takut dia menganggapku buruk.”
Keduanya berbeda.
Tidak perlu menjadi dominan untuk merasa aman
Kadang kita berpikir bahwa satu-satunya cara agar tidak takut menghadapi orang dominan adalah menjadi lebih keras, lebih berani, atau lebih dominan juga.
Padahal tidak harus begitu.
Tujuannya bukan mengalahkan orang lain.
Tujuannya adalah mampu tetap menjadi diri sendiri ketika berada di hadapan seseorang yang kepribadiannya lebih kuat.
Kita boleh berkata tidak.
Kita boleh memiliki pendapat berbeda.
Kita boleh membutuhkan waktu untuk berpikir.
Kita boleh melakukan kesalahan.
Kita juga boleh tidak disukai semua orang.
Dan semua itu tidak otomatis membuat kita menjadi orang yang buruk.
Bagaimana mulai mengatasinya?
Ketika rasa tidak nyaman muncul setelah bertemu seseorang, jangan langsung memaksa diri untuk berhenti merasa takut.
Cobalah mengatakan:
“Aku sedang merasa tidak aman. Tetapi perasaan ini bukan bukti bahwa aku melakukan kesalahan.”
Kemudian kembali ke keadaan saat ini.
Rasakan kaki menyentuh lantai.
Perhatikan benda-benda di sekitar.
Tarik napas dengan nyaman dan perlahan, lalu keluarkan napas sedikit lebih panjang.
Ingatkan diri:
“Pertemuan itu sudah selesai. Sekarang aku berada di sini.”
Jika pikiran kembali mengulang kejadian tersebut, kita tidak harus mengikuti setiap pertanyaan yang muncul.
Kita bisa berkata:
“Aku sudah memikirkan ini. Kalau memang ada masalah nyata, aku bisa menghadapinya. Aku tidak perlu terus mencari kesalahan yang belum tentu ada.”
Belajar merasa aman tanpa harus selalu sempurna
Pada akhirnya, mungkin yang perlu dipelajari bukan bagaimana caranya tidak pernah salah.
Tetapi bagaimana caranya tetap merasa bahwa kita berharga dan aman meskipun sesekali salah.
Kita tidak harus selalu membaca ekspresi orang lain.
Kita tidak harus selalu memastikan semua orang menyukai kita.
Kita tidak harus selalu mengatakan hal yang sempurna.
Dan kita tidak harus mengecilkan diri hanya karena berhadapan dengan seseorang yang lebih tegas atau lebih dominan.
Ada saatnya kita perlu belajar mengatakan kepada diri sendiri:
“Aku tidak harus sempurna untuk boleh merasa tenang.”
Rasa takut itu mungkin muncul karena ada bagian dari diri kita yang pernah belajar untuk selalu berhati-hati.
Maka proses penyembuhannya bukan dengan memarahi diri sendiri karena masih takut.
Melainkan dengan perlahan menunjukkan kepada diri sendiri:
“Sekarang aku bisa menjaga diriku. Aku tidak harus selalu takut salah. Aku boleh menjadi diriku sendiri.”

0 comments:
Posting Komentar