Akhir-akhir ini aku sedang belajar tentang satu hal yang ternyata tidak mudah: melepaskan kemelekatan.
Bukan hanya melepaskan seseorang. Bukan hanya melepaskan sesuatu yang aku inginkan.
Tetapi melepaskan kebutuhan untuk dikatakan benar, disukai, diterima, dipuji, dimengerti, atau dianggap baik oleh orang lain.
Aku mulai menyadari bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mencari rasa aman dari luar diriku.
Aku ingin orang lain menyukaiku agar aku merasa cukup.
Aku ingin orang lain menyetujui pilihanku agar aku merasa tidak salah.
Aku ingin orang lain mengatakan bahwa aku sudah melakukan sesuatu dengan baik agar aku percaya bahwa aku memang mampu.
Dan ketika tidak mendapatkannya, muncul rasa takut.
Takut mengecewakan.
Takut dinilai.
Takut dianggap tidak cukup baik.
Takut melakukan kesalahan.
Takut tidak disukai.
Bahkan terkadang aku takut hanya karena seseorang terlihat tidak senang kepadaku.
Mungkin selama ini aku bukan terlalu sensitif. Mungkin aku terlalu menggantungkan rasa amanku pada sesuatu di luar diriku.
Aku mulai belajar bahwa validasi dari orang lain bukan sesuatu yang salah.
Senang dipuji itu manusiawi.
Senang disukai itu manusiawi.
Senang ketika seseorang memahami kita juga manusiawi.
Yang ingin aku lepaskan bukan perasaannya.
Yang ingin aku lepaskan adalah ketergantunganku terhadapnya.
Aku tidak ingin lagi berpikir:
"Aku harus disukai supaya aku merasa berharga."
Aku ingin sampai pada titik:
"Aku senang kalau disukai, tetapi kalau tidak pun aku tetap berharga."
Aku ingin bisa menerima pujian tanpa menjadi kecanduan pujian.
Menerima kritik tanpa langsung merasa hancur.
Menerima ketidaksukaan seseorang tanpa buru-buru memperbaiki diriku hanya supaya dia kembali menyukaiku.
Dan mungkin, di situlah kebebasan mulai terasa.
Melepaskan bukan berarti tidak peduli
Dulu aku mungkin mengira melepaskan berarti menjadi cuek.
Tidak peduli.
Tidak punya harapan.
Tidak punya perasaan.
Ternyata bukan begitu.
Melepaskan adalah tetap peduli, tetapi tidak menggenggam terlalu erat.
Aku boleh mencintai seseorang tanpa harus mengendalikan bagaimana dia memperlakukanku.
Aku boleh berharap sesuatu berjalan baik tanpa memaksa kenyataan harus sesuai keinginanku.
Aku boleh ingin diterima tanpa menjadikan penerimaan orang lain sebagai ukuran harga diriku.
Aku boleh melakukan yang terbaik tanpa harus memastikan semua orang menganggapku hebat.
Aku mulai belajar berkata:
"Aku menginginkan ini, tetapi aku tidak harus memilikinya untuk tetap baik-baik saja."
Dan ternyata kalimat itu sangat melegakan.
Lalu bagaimana dengan rasa takut?
Aku juga sedang belajar bahwa mungkin tujuan hidupku bukan membuat rasa takut hilang sepenuhnya.
Karena semakin aku memaksa:
"Aku tidak boleh takut."
Semakin aku takut ketika rasa itu muncul.
Jadi sekarang aku ingin belajar sesuatu yang berbeda.
Ketika takut datang, aku ingin mengatakan:
"Aku tahu kamu ada. Tapi kamu tidak harus mengendalikan aku."
Aku boleh merasa takut dan tetap berbicara.
Aku boleh merasa takut dan tetap mencoba.
Aku boleh merasa takut dan tetap melakukan apa yang menurutku benar.
Aku tidak harus menunggu menjadi pemberani untuk menjalani hidup.
Mungkin keberanian justru muncul ketika aku berkata:
"Aku takut, tetapi aku tetap di sini."
Aku tidak ingin lagi hidup dalam mode membuktikan diri
Aku lelah merasa harus membuktikan bahwa aku cukup baik.
Cukup pintar.
Cukup mampu.
Cukup disukai.
Cukup menarik.
Cukup berhasil.
Cukup benar.
Aku ingin belajar bahwa keberadaanku tidak perlu terus-menerus dibuktikan.
Aku tidak harus memenangkan setiap penilaian.
Tidak harus membuat semua orang mengerti diriku.
Tidak harus membuat semua orang menyukaiku.
Tidak harus selalu memberikan jawaban yang sempurna.
Tidak harus selalu terlihat kuat.
Aku manusia.
Aku bisa salah.
Aku bisa gugup.
Aku bisa tidak tahu.
Aku bisa menangis.
Aku bisa berubah pikiran.
Dan semua itu tidak otomatis membuatku menjadi seseorang yang tidak berharga.
Semakin aku melepaskan, semakin aku bisa merasakan
Ada sesuatu yang menarik dari melepaskan kemelekatan.
Ketika aku berhenti berusaha mengendalikan semuanya, aku justru bisa merasakan hidup dengan lebih jernih.
Aku bisa merasakan senang tanpa takut kehilangan.
Bisa merasakan cinta tanpa harus memiliki.
Bisa menerima kebaikan tanpa takut suatu hari kebaikan itu berhenti.
Bisa merasakan kecewa tanpa menganggap kekecewaan sebagai kehancuran.
Bisa merasakan sedih tanpa buru-buru melarikan diri.
Ternyata melepaskan bukan membuat hidup menjadi hambar.
Justru sebaliknya.
Ketika genggaman menjadi lebih longgar, aku bisa benar-benar merasakan apa yang sedang ada di tanganku.
Aku sedang belajar pulang kepada diriku sendiri
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melihat ke luar.
"Menurut mereka aku bagaimana?"
"Apakah mereka suka?"
"Apakah aku salah?"
"Apakah aku sudah cukup baik?"
"Bagaimana supaya mereka tidak kecewa?"
Sekarang aku ingin perlahan mengubah pertanyaannya.
"Apa yang sebenarnya aku rasakan?"
"Apa yang sebenarnya aku butuhkan?"
"Apa yang menurutku benar?"
"Apa yang berada dalam kendaliku?"
Dan yang paling penting:
"Kalau tidak ada yang memvalidasi aku, bisakah aku tetap memvalidasi diriku sendiri?"
Aku belum selalu bisa.
Tetapi aku sedang belajar.
Dan mungkin proses penyembuhan memang bukan tentang tiba-tiba menjadi seseorang yang tidak takut, tidak membutuhkan siapa pun, dan tidak pernah mencari validasi.
Mungkin prosesnya adalah ketika aku semakin mampu berkata:
"Aku boleh membutuhkan kasih sayang, tetapi aku tidak akan kehilangan diriku demi mendapatkannya."
"Aku boleh ingin diterima, tetapi aku tidak akan mengkhianati diriku hanya agar diterima."
"Aku boleh takut, tetapi aku tidak akan membiarkan ketakutan menentukan seluruh hidupku."
"Aku boleh dicintai orang lain, tetapi aku juga sedang belajar mencintai diriku sendiri."
Dan perlahan-lahan...
Aku ingin melepaskan.
Bukan karena aku tidak peduli.
Tetapi karena aku ingin hidup lebih bebas.
Aku ingin mencintai tanpa menggenggam.
Berharap tanpa memaksa.
Menerima tanpa kehilangan diri.
Mendengar pendapat orang tanpa menjadikannya suara di kepalaku.
Dan berjalan tanpa harus memastikan semua orang setuju dengan langkahku.
Mungkin suatu hari nanti aku akan sampai pada titik di mana ketika seseorang tidak menyukaiku, aku tidak langsung takut.
Ketika seseorang mengkritikku, aku tidak langsung merasa kecil.
Ketika aku melakukan kesalahan, aku tidak langsung membenci diriku sendiri.
Aku hanya akan menarik napas dan berkata:
"Tidak apa-apa. Aku tetap aku."
Dan mungkin itulah yang selama ini sebenarnya aku cari.
Bukan supaya semua orang menyukaiku.
Bukan supaya aku tidak pernah takut.
Tetapi supaya aku akhirnya merasa aman menjadi diriku sendiri.
