Ada masa ketika seseorang mulai merasa lebih nyaman dengan dirinya sendiri.
Ia mulai merawat diri, memperhatikan penampilan, mengenali apa yang ia sukai, berani berbicara, dan perlahan tidak lagi terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain menilainya.
Menariknya, perubahan seperti ini kadang membuat kita menyadari sesuatu: ternyata rasa tidak nyaman terhadap diri sendiri tidak selalu berasal dari dalam diri. Kadang ada lingkungan atau pola interaksi tertentu yang membuat kita terus mempertanyakan diri sendiri.
Kita sering membawa pola masa lalu
Dalam hidup, manusia cenderung mengenali sesuatu yang familiar. Pola komunikasi, cara menghadapi konflik, bahkan cara memandang diri sendiri bisa terbentuk dari pengalaman yang berulang.
Jika sejak dulu seseorang sering dikritik, dibandingkan, dipertanyakan, atau dibuat merasa harus berhati-hati terhadap penilaian orang lain, ia mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sangat peka terhadap ekspresi, nada bicara, atau komentar orang lain.
Bukan berarti ia lemah.
Tubuh dan pikirannya hanya pernah belajar bahwa penilaian orang lain perlu diperhatikan demi keamanan.
Namun ketika seseorang mulai menyadari pola tersebut, ia memiliki kesempatan untuk membangun pola baru.
Bukan lagi:
"Apa yang orang lain pikirkan tentangku?"
tetapi:
"Apa yang sebenarnya aku pikirkan tentang diriku sendiri?"
Perubahan diri bisa mengubah dinamika hubungan
Ketika seseorang mulai lebih percaya diri, hubungan sosialnya juga dapat terasa berbeda.
Orang-orang yang sudah terbiasa melihat dirinya dalam versi tertentu mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
Tidak semua orang akan bereaksi negatif. Ada yang justru mendukung. Tetapi ada pula interaksi tertentu yang membuat seseorang merasa seolah-olah keberaniannya kembali dipertanyakan.
Misalnya ketika seseorang mulai berani tampil sesuai dengan dirinya, kemudian mendapatkan komentar yang membuatnya kembali memikirkan:
"Apa aku terlalu berani?"
"Apa penampilanku salah?"
"Apa orang-orang akan menilaiku?"
Komentar semacam itu bisa terasa kecil bagi orang lain, tetapi dapat memiliki dampak besar bagi seseorang yang memang memiliki pengalaman panjang dengan rasa takut terhadap penilaian.
Karena itu, penting untuk membedakan komentar orang lain dengan kebenaran tentang diri kita.
Kita tidak selalu tahu motif orang lain
Salah satu hal yang perlu dipelajari dalam proses menjadi lebih kuat adalah kemampuan untuk berkata:
"Aku tahu bagaimana perilaku itu membuatku merasa, tetapi aku belum tentu tahu apa yang ada di dalam pikiran orang tersebut."
Seseorang bisa saja memberikan komentar karena iri, tidak nyaman, bercanda, ingin membantu, memiliki standar yang berbeda, atau karena alasan lain yang tidak kita ketahui.
Kita tidak selalu perlu memecahkan motifnya.
Yang lebih penting adalah mengamati pola perilakunya dan melihat dampaknya terhadap diri kita.
Jika sebuah interaksi terus membuat kita merasa kecil, bingung, atau mempertanyakan harga diri sendiri, kita boleh membuat batasan tanpa harus terlebih dahulu membuktikan bahwa orang tersebut memiliki niat buruk.
Tidak semua kritik harus masuk ke dalam diri
Ada perbedaan antara menerima masukan dan menyerahkan kendali atas penilaian diri kepada orang lain.
Masukan yang baik dapat membantu kita berkembang.
Namun komentar yang terus membuat kita merasa bahwa diri kita salah hanya karena menjadi diri sendiri perlu disaring.
Kita boleh bertanya:
"Apakah komentar ini benar-benar memberikan informasi yang berguna?"
"Apakah ini sesuai dengan nilai yang ingin aku jalani?"
"Atau komentar ini hanya membuatku kembali meragukan diriku sendiri?"
Tidak semua suara dari luar harus menjadi suara di dalam kepala kita.
Ketika tubuh terasa lelah setelah bertemu seseorang
Kadang kita mengatakan:
"Entah kenapa energiku habis setelah bertemu orang ini."
Hal tersebut tidak selalu berarti ada sesuatu yang mistis atau bahwa seseorang secara harfiah mengambil energi kita.
Secara psikologis, interaksi yang membuat kita terus waspada dapat menguras perhatian dan energi mental.
Kita mungkin tanpa sadar terus memperhatikan:
- ekspresi wajahnya,
- nada bicaranya,
- apakah ia akan mengomentari sesuatu,
- apakah kita mengatakan sesuatu yang salah,
- bagaimana ia menilai kita,
- dan bagaimana kita harus merespons.
Otak bekerja lebih keras ketika merasa harus terus berjaga-jaga.
Karena itu, setelah interaksi selesai, tubuh dapat terasa sangat lelah.
Kemajuan tidak selalu berarti kita tidak pernah terpicu lagi
Ada kekhawatiran yang sering muncul ketika seseorang mulai merasa lebih baik:
"Bagaimana kalau nanti aku kembali seperti dulu?"
Padahal proses perubahan memang bisa naik turun.
Hari ini kita mungkin merasa percaya diri. Besok kita mungkin kembali sensitif terhadap komentar tertentu.
Itu tidak otomatis berarti semua kemajuan hilang.
Kemajuan bisa terlihat dari hal-hal yang lebih kecil:
Dulu kita membutuhkan waktu berhari-hari untuk pulih.
Sekarang mungkin hanya beberapa jam.
Dulu satu komentar membuat kita langsung mempertanyakan seluruh diri.
Sekarang kita masih sedih, tetapi mampu berkata:
"Aku tidak setuju dengan penilaian itu."
Dulu kita langsung bereaksi.
Sekarang kita mampu berhenti sejenak sebelum menjawab.
Itu juga kemajuan.
Rasa aman tidak harus selalu datang dari penerimaan orang lain
Ada sesuatu yang sederhana tetapi kuat dalam merawat diri.
Ketika seseorang berdandan, berpakaian dengan nyaman, merawat tubuh, atau melakukan sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik, manfaatnya bukan sekadar perubahan penampilan.
Ada pesan psikologis yang bisa muncul:
"Aku memperhatikan diriku."
"Aku layak dirawat."
"Aku nyaman menjadi diriku sendiri."
Ketika rasa nyaman terhadap diri mulai tumbuh, penilaian orang lain perlahan dapat kehilangan sebagian kekuatannya.
Bukan berarti kita menjadi kebal.
Kita tetap bisa terluka.
Tetapi kita tidak lagi sepenuhnya menyerahkan definisi diri kepada orang lain.
Menjadi lebih berani bukan berarti harus menjadi keras
Kita tidak harus berubah menjadi orang yang kasar agar bisa memiliki batasan.
Kita bisa tetap ramah tanpa membuka semua hal tentang diri kita.
Kita bisa tetap menghormati orang lain tanpa selalu menyetujui mereka.
Kita bisa menerima masukan tanpa merasa wajib mengikuti semuanya.
Dan kita bisa mengatakan:
"Aku nyaman dengan pilihanku."
tanpa harus membuat penjelasan panjang.
Mungkin inilah salah satu bentuk kedewasaan emosional: tidak semua hal harus dimenangkan melalui perdebatan.
Kadang cukup dengan mengetahui posisi kita sendiri.
Pada akhirnya, yang sedang kita bangun adalah hubungan dengan diri sendiri
Perjalanan menjadi lebih percaya diri bukan tentang membuat semua orang menyukai kita.
Bukan pula tentang menjadi seseorang yang tidak pernah takut atau tidak pernah sedih.
Lebih sederhana dari itu.
Kita sedang belajar untuk tidak langsung meninggalkan diri sendiri ketika orang lain memberikan penilaian.
Kita belajar berkata:
"Aku boleh mendengarkan, tetapi aku juga boleh menilai kembali."
"Aku boleh menerima masukan, tetapi aku tidak harus menerima semua penilaian."
"Aku boleh berubah meskipun orang lain terbiasa dengan diriku yang dulu."
Dan mungkin yang paling penting:
Aku tidak harus menjadi versi diriku yang paling nyaman bagi orang lain hanya agar aku diterima.
Sebab semakin kita mengenal diri sendiri, semakin kita bisa membedakan mana kritik yang memang perlu didengar, mana penilaian yang perlu disaring, dan mana suara lama dalam diri yang sebenarnya sudah tidak perlu mengendalikan kehidupan kita.

0 comments:
Posting Komentar