Ada masa ketika kita begitu ingin diterima.
Kita ingin dianggap baik, ingin dipahami, ingin diperlakukan dengan lembut, dan ingin orang lain melihat diri kita sebagaimana kita melihat diri sendiri.
Ketika seseorang salah memahami kita, rasanya seperti ada dorongan untuk segera menjelaskan. Ketika seseorang memberikan penilaian buruk, kita ingin membuktikan bahwa penilaian itu tidak benar.
Namun semakin sering kita berusaha mendapatkan pengakuan dari orang lain, semakin kita menyadari sesuatu:
Kita tidak mungkin mengendalikan bagaimana orang lain melihat kita.
Ketika Penilaian Orang Terasa Terlalu Besar
Ada orang yang bisa mendengar komentar buruk lalu melupakannya beberapa menit kemudian.
Ada pula yang memikirkannya berhari-hari.
Bukan selalu karena orang kedua lebih lemah. Bisa jadi pengalaman hidup membuatnya lebih peka terhadap penolakan, kritik, atau perubahan sikap orang lain.
Ketika pernah mengalami banyak situasi yang membuat kita merasa harus berhati-hati, tubuh dapat belajar untuk selalu bersiap menghadapi ancaman sosial.
Akibatnya, ketika menghadapi situasi yang terasa menekan, kita mungkin tidak langsung mampu menjawab.
Pikiran menjadi kosong.
Tubuh terasa kaku.
Kita ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak muncul.
Itulah salah satu bentuk respons freeze.
Diam pada saat seperti itu bukan berarti kita tidak mempunyai pendapat. Kadang tubuh hanya sedang mencoba mencari rasa aman sebelum mampu kembali berpikir dengan jernih.
Tidak Semua Hal Harus Diklarifikasi
Ada saat ketika klarifikasi memang diperlukan.
Namun ada pula saat ketika kita menyadari bahwa menjelaskan diri terus-menerus hanya membuat kita semakin lelah.
Kita tidak dapat memaksa seseorang menerima penjelasan kita.
Kita juga tidak dapat mengendalikan cerita yang beredar di luar diri kita.
Yang masih berada dalam kendali kita adalah bagaimana kita menjalani hidup setelahnya.
Kita dapat memilih untuk tetap konsisten dengan nilai yang kita yakini.
Tetap memperlakukan orang dengan baik tanpa menjadi orang yang selalu mengalah.
Tetap sopan tanpa harus membuka seluruh kehidupan pribadi.
Tetap tenang tanpa harus membuktikan diri kepada semua orang.
Baik Tidak Berarti Harus Selalu Tersedia
Menjadi orang baik tidak sama dengan selalu mengatakan iya.
Kita boleh memiliki batas.
Kita boleh tidak menjawab semua pertanyaan.
Kita boleh tidak menceritakan semuanya.
Kita boleh menjaga jarak dari hubungan yang membuat kita terus merasa tidak nyaman.
Kebaikan yang sehat tidak mengharuskan seseorang mengorbankan dirinya agar orang lain selalu nyaman.
Ada perbedaan antara baik hati dan takut tidak disukai.
Yang pertama berasal dari pilihan.
Yang kedua sering berasal dari rasa takut.
Dan semakin kita mampu membedakan keduanya, semakin mudah bagi kita untuk bersikap sesuai dengan nilai diri sendiri.
Belajar Tidak Bergantung pada Validasi
Validasi dari orang lain memang menyenangkan.
Pujian membuat kita merasa dihargai. Dukungan membuat kita merasa tidak sendirian.
Namun masalah muncul ketika pendapat orang lain menjadi satu-satunya sumber untuk menentukan harga diri.
Jika dipuji, kita merasa berharga.
Jika dikritik, kita merasa buruk.
Jika diterima, kita merasa aman.
Jika ditolak, kita merasa tidak cukup.
Pada titik tertentu, kita perlu mulai membangun suara dari dalam diri sendiri.
Bukan dengan mengatakan bahwa pendapat orang lain tidak penting sama sekali, tetapi dengan belajar bertanya:
“Apakah aku sendiri tahu siapa diriku?”
“Apakah aku tahu nilai yang ingin kupegang?”
“Apakah aku masih menghargai diriku ketika seseorang tidak menyukaiku?”
Menjadi Tenang Bukan Berarti Tidak Pernah Terluka
Orang yang terlihat percaya diri bukan berarti tidak pernah merasa malu, takut, atau insecure.
Ketenangan bukan ketiadaan emosi.
Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap memiliki pilihan meskipun emosi sedang muncul.
Kita bisa merasa tersinggung tanpa langsung menyerang.
Kita bisa merasa sedih tanpa menyimpulkan bahwa hidup kita gagal.
Kita bisa tidak disukai tanpa menganggap diri kita tidak layak.
Kita bisa tidak setuju tanpa harus membuat pertengkaran.
Dan kita bisa diam tanpa merasa bahwa diam berarti kalah.
Membangun Diri dari Dalam
Mungkin tujuan akhirnya bukan menjadi seseorang yang sama sekali tidak membutuhkan orang lain.
Manusia tetap membutuhkan hubungan, kasih sayang, pertemanan, dan rasa diterima.
Yang ingin dibangun adalah sesuatu yang lebih sehat:
“Aku senang ketika orang menyukaiku, tetapi aku tidak kehilangan diriku ketika mereka tidak menyukaiku.”
Kita mulai memilih hubungan yang membuat kita merasa aman.
Mulai memperhatikan siapa yang konsisten.
Mulai memberikan kepercayaan secara bertahap, bukan sekaligus.
Mulai menjaga batas.
Mulai mempunyai kehidupan dan tujuan yang tidak bergantung pada pendapat orang lain.
Pelan-pelan, perhatian kita berpindah dari:
“Mereka melihatku seperti apa?”
menjadi:
“Aku ingin menjadi manusia seperti apa?”
Perubahan itu mungkin tidak terjadi dalam satu malam.
Namun setiap kali kita berhasil berhenti menjelaskan diri secara berlebihan, menahan reaksi impulsif, berkata tidak ketika memang tidak ingin, atau tetap menghargai diri meskipun tidak mendapat persetujuan, kita sedang membangun sesuatu.
Bukan citra baru.
Melainkan diri yang lebih kokoh.
Pada Akhirnya
Kita mungkin tidak akan pernah disukai semua orang.
Akan selalu ada orang yang salah memahami kita.
Akan selalu ada penilaian yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dan mungkin akan ada hari ketika kita tetap freeze, tetap sedih, atau tetap membutuhkan waktu untuk menemukan kata-kata.
Tidak apa-apa.
Pertumbuhan bukan berarti kita tidak pernah kembali pada pola lama.
Pertumbuhan berarti kita semakin cepat kembali kepada diri sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup yang bebas bukanlah hidup tanpa penilaian orang lain.
Hidup yang bebas adalah ketika penilaian orang lain tidak lagi memegang kendali penuh atas cara kita memandang diri sendiri.
Kita tidak harus menjadi sempurna.
Kita hanya perlu semakin mengenal diri, menjaga hati, memperbaiki kesalahan ketika memang ada, dan tetap berjalan sesuai nilai yang kita pilih.
Tidak semua orang harus menyukaiku.
Aku hanya perlu belajar untuk tidak meninggalkan diriku sendiri demi disukai.

0 comments:
Posting Komentar