Pernahkah kita merasa tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada seseorang, tetapi entah mengapa orang tersebut tetap tidak menyukai kita?
Kita tidak mengganggunya. Tidak mencari masalah. Tidak berniat menyakiti. Namun, seolah-olah keberadaan kita saja sudah cukup untuk membuatnya tidak nyaman.
Yang lebih membingungkan, terkadang kekurangan kecil yang sebenarnya merupakan bagian manusiawi dari diri kita justru dijadikan alasan untuk tidak menyukai kita.
Kita mulai bertanya:
“Memangnya aku salah apa?”
Tidak semua ketidaksukaan muncul karena kesalahan kita
Dalam hubungan sosial, kita sering menganggap bahwa kalau seseorang tidak menyukai kita, pasti kita telah melakukan sesuatu yang membuatnya demikian.
Padahal, tidak selalu begitu.
Seseorang dapat merasa tidak cocok dengan kita karena perbedaan karakter, pengalaman hidup, cara berkomunikasi, nilai yang dianut, atau bahkan karena persepsi yang terbentuk di dalam pikirannya sendiri.
Ada pula keadaan ketika seseorang melihat sesuatu dalam diri kita yang sebenarnya tidak salah, tetapi tidak sesuai dengan harapan atau standar pribadinya.
Misalnya, seseorang yang pendiam bisa dianggap sombong. Seseorang yang berhati-hati bisa dianggap terlalu banyak berpikir. Seseorang yang tidak banyak bicara bisa dianggap tidak ramah.
Padahal, satu perilaku yang sama dapat memiliki banyak penafsiran.
Diam tidak selalu berarti sombong.
Berhati-hati tidak selalu berarti aneh.
Tidak banyak bicara tidak berarti tidak menghargai orang lain.
Ketika kekurangan dijadikan alasan untuk membenci
Setiap manusia mempunyai kekurangan.
Ada yang kurang pandai berbicara. Ada yang canggung dalam pergaulan. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Ada yang tidak terlalu ekspresif. Ada yang mudah gugup. Ada yang tidak pandai membalas candaan.
Kekurangan seperti itu seharusnya tidak otomatis membuat seseorang menjadi tidak layak dihargai.
Namun dalam kehidupan sosial, manusia terkadang menggunakan kekurangan orang lain sebagai dasar untuk memberikan penilaian secara keseluruhan.
Satu kekurangan akhirnya dianggap mewakili seluruh kepribadian.
Padahal seseorang tidak pernah hanya terdiri dari satu sisi.
Kita bisa memiliki kekurangan sekaligus memiliki banyak kualitas baik yang mungkin tidak terlihat oleh semua orang.
Kita tidak selalu bisa mengetahui alasan seseorang tidak menyukai kita
Hal lain yang perlu diterima adalah bahwa tidak semua perasaan orang lain dapat kita pahami.
Kita bisa mencoba bersikap baik, sopan, dan tidak mengganggu. Tetapi kita tetap tidak memiliki kendali atas bagaimana orang lain menafsirkan keberadaan kita.
Dan semakin kita berusaha mencari tahu “Kenapa dia tidak suka aku?”, semakin mudah kita terjebak dalam penilaian terhadap diri sendiri.
Kita mulai memeriksa cara bicara.
Cara berpakaian.
Ekspresi wajah.
Kekurangan fisik.
Kepribadian.
Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kita anggap sebagai masalah.
Pada akhirnya, kita bisa merasa harus memperbaiki seluruh diri hanya agar diterima.
Padahal belum tentu ada sesuatu yang memang perlu diperbaiki.
Tidak disukai bukan berarti tidak berharga
Ini mungkin bagian yang paling sulit dipahami.
Kita sering menghubungkan penerimaan orang lain dengan nilai diri sendiri.
Kalau disukai, kita merasa cukup baik.
Kalau ditolak, kita merasa pasti ada yang salah dengan diri kita.
Padahal keduanya tidak selalu berhubungan.
Seseorang bisa saja tidak menyukai kita, tetapi kita tetap merupakan manusia yang berharga.
Seseorang bisa salah memahami kita, tetapi kesalahpahaman tersebut tidak otomatis menjadi identitas kita.
Seseorang bisa melihat kekurangan kita, tetapi kekurangan itu tidak menghapus seluruh kelebihan yang kita miliki.
Kita tidak membutuhkan persetujuan semua orang untuk membuktikan bahwa kita layak dihormati.
Ada perbedaan antara introspeksi dan menyalahkan diri sendiri
Tentu saja, bukan berarti setiap ketidaksukaan orang lain harus dianggap sebagai masalah mereka.
Introspeksi tetap penting.
Jika kita melakukan sesuatu yang memang menyakiti orang lain, kita dapat mengakuinya, memperbaikinya, dan belajar dari pengalaman tersebut.
Namun introspeksi berbeda dengan terus-menerus mencari kesalahan dalam diri hanya karena seseorang tidak menyukai kita.
Introspeksi bertanya:
“Apakah ada perilakuku yang perlu diperbaiki?”
Menyalahkan diri sendiri bertanya:
“Apa yang salah dengan diriku sampai orang itu tidak menyukaiku?”
Pertanyaan pertama membantu kita berkembang.
Pertanyaan kedua bisa membuat kita terus meragukan keberadaan diri sendiri.
Kita boleh menjadi manusia yang belum sempurna
Tidak semua kekurangan harus menjadi proyek perbaikan.
Ada hal-hal yang memang bisa kita kembangkan. Tetapi ada pula bagian dari diri kita yang hanya merupakan variasi manusia.
Tidak semua orang harus menjadi pandai bersosialisasi.
Tidak semua orang harus banyak bicara.
Tidak semua orang harus terlihat percaya diri setiap saat.
Tidak semua orang harus memiliki kepribadian yang mudah disukai.
Menjadi manusia berarti memiliki sisi yang kuat sekaligus sisi yang masih belajar.
Dan kita tetap pantas mendapatkan perlakuan yang baik selama kita juga berusaha memperlakukan orang lain dengan baik.
Pada akhirnya, kita tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita
Ada kenyataan yang mungkin terasa pahit tetapi sebenarnya membebaskan:
Kita tidak dapat mengendalikan perasaan semua orang terhadap kita.
Kita dapat mengendalikan sikap kita.
Kita dapat memilih untuk tidak menyakiti.
Kita dapat belajar berkomunikasi dengan lebih baik.
Kita dapat memperbaiki kesalahan ketika memang melakukan kesalahan.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, tetap mungkin ada orang yang tidak menyukai kita.
Dan itu bukan selalu tanda bahwa kita gagal.
Mungkin memang ada ketidakcocokan.
Mungkin ada perbedaan cara pandang.
Mungkin ada persepsi yang tidak sama.
Atau mungkin kita memang bukan tipe orang yang cocok bagi semua orang.
Tidak apa-apa.
Kita tidak harus menjadi versi diri yang disukai semua orang.
Yang lebih penting adalah menjadi seseorang yang dapat hidup dengan dirinya sendiri tanpa terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa dirinya layak diterima.
Karena tidak disukai seseorang bukanlah bukti bahwa kita adalah orang yang buruk.
Dan memiliki kekurangan bukan alasan bagi kita untuk kehilangan hak untuk dihargai.

0 comments:
Posting Komentar