Kritik pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Kritik yang disampaikan dengan tepat dapat membantu seseorang memperbaiki kesalahan, belajar, dan berkembang.
Namun, ketika kritik diberikan terlalu sering, terlalu keras, merendahkan, atau hampir selalu berfokus pada kekurangan, kritik dapat berubah menjadi overkritik.
Menariknya, seseorang yang sering mengkritik orang lain belum tentu selalu menyadari bahwa perilakunya sudah menjadi berlebihan. Di sisi lain, seseorang yang bertahun-tahun menerima kritik juga dapat mengalami perubahan dalam cara dirinya memandang kesalahan, penilaian sosial, bahkan dirinya sendiri.
Mengapa seseorang bisa menjadi sangat kritis?
Perilaku manusia tidak muncul begitu saja. Banyak perilaku terbentuk melalui pengalaman, lingkungan, dan proses belajar.
1. Kritik dapat dipelajari sejak kecil
Anak belajar bagaimana berkomunikasi dengan mengamati lingkungan di sekitarnya.
Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa menggunakan kritik sebagai cara mendidik atau berkomunikasi, pola tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Pada akhirnya, seseorang mungkin membawa pola komunikasi tersebut ke dalam hubungan ketika dewasa.
Ia bisa saja tidak berpikir:
"Saya sedang mengkritik orang lain."
Perilaku tersebut sudah menjadi sesuatu yang otomatis.
2. Kritik dapat dianggap sebagai bentuk kepedulian
Tidak semua kritik muncul dari keinginan untuk menyakiti.
Sebagian orang benar-benar meyakini bahwa menunjukkan kesalahan adalah cara membantu seseorang menjadi lebih baik.
Dalam pola pikir seperti ini, kritik dapat dianggap sebagai bentuk perhatian:
"Kalau tidak diberi tahu, bagaimana dia bisa memperbaikinya?"
Masalahnya, niat untuk membantu tidak selalu sama dengan dampak yang diterima oleh orang lain.
Kritik yang terlalu sering tetap dapat terasa melelahkan, terutama ketika seseorang merasa tidak pernah mendapatkan pengakuan atas hal-hal yang sudah dilakukannya dengan baik.
3. Standar pribadi dapat diterapkan kepada orang lain
Seseorang yang memiliki standar sangat tinggi terhadap dirinya sendiri dapat menerapkan standar yang sama kepada orang lain.
Jika dirinya terbiasa berpikir bahwa kesalahan tidak boleh terjadi, ia mungkin kesulitan menerima kesalahan orang lain.
Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang perfeksionis pasti menjadi pengkritik. Namun, standar yang sangat kaku dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara seseorang memberikan penilaian.
4. Kritik dapat menjadi cara mengatasi rasa tidak nyaman
Manusia cenderung ingin merasa bahwa lingkungannya dapat diprediksi dan dikendalikan.
Ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan, sebagian orang merasa tidak nyaman. Mengoreksi atau mengkritik dapat menjadi respons spontan untuk membuat keadaan kembali sesuai dengan standar yang mereka anggap benar.
Dalam keadaan seperti ini, kritik tidak selalu benar-benar berkaitan dengan kualitas orang yang dikritik. Kritik juga dapat menjadi cara seseorang mengelola ketidaknyamanan dirinya sendiri.
5. Proyeksi dapat berperan
Dalam psikologi dikenal istilah projection, yaitu salah satu mekanisme pertahanan ketika seseorang mengatribusikan aspek tertentu dari dirinya kepada orang lain.
Sebagai contoh, seseorang yang sangat takut melakukan kesalahan mungkin menjadi sangat sensitif terhadap kesalahan orang lain.
Namun, proyeksi bukan penjelasan untuk semua perilaku mengkritik. Setiap orang memiliki latar belakang dan alasan yang berbeda.
Mengapa perilaku mengkritik bisa dilakukan tanpa sadar?
Otak manusia mampu mengubah perilaku yang sering dilakukan menjadi kebiasaan.
Pada awalnya, seseorang mungkin secara sadar memilih untuk memberikan komentar atau koreksi. Tetapi setelah pola tersebut diulang berkali-kali, respons tersebut dapat menjadi lebih otomatis.
Hal ini serupa dengan kebiasaan lain dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang dapat melihat sesuatu, memberikan penilaian, lalu mengeluarkan komentar sebelum sempat memikirkan:
"Apakah komentar ini memang diperlukan?"
Karena itu, seseorang bisa saja tidak menyadari bahwa orang lain sudah merasa lelah menerima kritik.
Kesadaran biasanya membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi:
- Seberapa sering saya mengoreksi orang lain?
- Apakah saya juga memberikan apresiasi?
- Apakah komentar saya benar-benar diperlukan?
- Bagaimana kemungkinan perasaan orang yang mendengarnya?
- Apakah saya sedang membantu atau hanya menyampaikan ketidaknyamanan saya sendiri?
Lalu, apa yang terjadi pada seseorang yang terus-menerus menerima kritik?
Di sinilah pembahasannya menjadi lebih kompleks.
Satu komentar negatif biasanya tidak otomatis menyebabkan kerusakan psikologis. Dampak sangat bergantung pada konteks, hubungan, frekuensi, intensitas, usia ketika mengalaminya, serta dukungan sosial yang dimiliki seseorang.
Namun, paparan kritik yang terus-menerus dapat menjadi sumber stres psikologis, terutama ketika kritik terasa tidak dapat dihindari dan seseorang merasa dirinya selalu salah.
1. Menjadi lebih sensitif terhadap penilaian
Otak memiliki sistem untuk mendeteksi ancaman.
Jika seseorang berulang kali mengalami interaksi yang membuatnya merasa akan disalahkan atau dipermalukan, ia dapat menjadi lebih waspada terhadap tanda-tanda penolakan atau kritik.
Akibatnya, situasi yang sebenarnya belum tentu berbahaya dapat terasa menegangkan.
Misalnya, sebelum berbicara seseorang sudah berpikir:
"Nanti kalau salah bagaimana?"
Bukan karena kesalahan tersebut pasti terjadi, tetapi karena otak telah belajar mengantisipasi kemungkinan kritik.
2. Kritik dari luar dapat berubah menjadi kritik dari dalam
Ini merupakan salah satu pola yang menarik.
Awalnya suara kritik berasal dari lingkungan:
"Kamu salah."
Setelah mendengarnya berulang kali, seseorang dapat mulai mengembangkan pola bicara yang sama terhadap dirinya sendiri:
"Aku memang selalu salah."
"Aku tidak cukup baik."
"Jangan coba-coba, nanti gagal."
Dengan kata lain, penilaian dari luar dapat menjadi bagian dari self-talk atau cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri.
3. Kepercayaan terhadap diri sendiri dapat berkurang
Jika kesalahan terus mendapatkan perhatian sementara usaha dan keberhasilan jarang mendapatkan pengakuan, seseorang dapat mulai meragukan penilaiannya sendiri.
Ia mungkin menjadi lebih sering bertanya:
"Ini sudah benar belum?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Aku salah tidak?"
Pada tingkat tertentu, kebutuhan terhadap validasi dari luar dapat meningkat karena seseorang kurang mempercayai penilaiannya sendiri.
4. Respons stres dapat menjadi lebih mudah muncul
Ketika seseorang merasa terancam secara psikologis, tubuh dapat mengaktifkan respons stres.
Jika situasi seperti ini sering terjadi, seseorang mungkin mengalami berbagai respons seperti ketegangan tubuh, sulit berkonsentrasi, sulit berpikir jernih ketika tertekan, atau merasa sangat lelah setelah menghadapi situasi sosial yang menegangkan.
Ini bukan berarti otaknya mengalami kerusakan permanen.
Lebih tepat untuk memahaminya sebagai adaptasi sistem stres terhadap pengalaman yang berulang.
5. Muncul kecenderungan menghindari kesalahan
Jika kesalahan selalu diikuti konsekuensi emosional yang tidak menyenangkan, otak dapat belajar bahwa cara paling aman adalah menghindari situasi yang berpotensi menghasilkan kesalahan.
Akibatnya seseorang dapat menjadi:
- terlalu berhati-hati,
- takut mencoba,
- takut berbicara,
- sulit mengambil keputusan,
- atau memilih diam daripada mengambil risiko.
Ironisnya, orang tersebut mungkin terlihat pasif atau tidak percaya diri, padahal di baliknya terdapat usaha untuk menghindari pengalaman negatif yang sudah dipelajari sebelumnya.
Apakah otak menjadi "rusak" karena overkritik?
Tidak sesederhana itu.
Otak memiliki kemampuan neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk berubah berdasarkan pengalaman.
Pengalaman negatif yang berlangsung lama dapat memengaruhi pola respons terhadap stres dan penilaian sosial, tetapi hal tersebut tidak berarti seseorang selamanya terjebak dalam pola tersebut.
Pengalaman baru yang aman, hubungan yang sehat, dukungan sosial, terapi ketika diperlukan, serta latihan membangun cara berpikir yang lebih seimbang dapat membantu terbentuknya pola baru.
Karena itu, seseorang yang pernah hidup dalam lingkungan penuh kritik tetap dapat belajar:
"Saya boleh melakukan kesalahan."
"Tidak semua orang sedang menilai saya."
"Saya tidak harus sempurna agar tetap berharga."
Kritik sehat dan overkritik bukanlah hal yang sama
Perbedaan antara keduanya bukan sekadar ada atau tidak adanya kritik.
Kritik sehat biasanya:
- spesifik terhadap perilaku atau masalah,
- memiliki tujuan yang jelas,
- disampaikan dengan menghormati orang tersebut,
- memberikan ruang untuk memperbaiki,
- tidak menjadikan satu kesalahan sebagai gambaran keseluruhan diri seseorang.
Sementara overkritik cenderung:
- terlalu sering mencari kesalahan,
- berfokus pada kekurangan,
- menggeneralisasi kesalahan,
- membuat seseorang merasa tidak pernah cukup baik,
- atau terus mengoreksi sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikoreksi.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya:
"Apakah kritik itu benar?"
Tetapi juga:
"Apakah kritik itu diperlukan, bagaimana cara menyampaikannya, seberapa sering diberikan, dan apa dampaknya?"
Memahami penyebab bukan berarti membenarkan perilaku
Mengetahui bahwa seseorang mungkin mengkritik karena kebiasaan, pengalaman masa lalu, standar pribadi, atau mekanisme psikologis tertentu bukan berarti perilaku tersebut otomatis menjadi sehat.
Memahami penyebab membantu kita melihat perilaku manusia secara lebih objektif.
Namun, dampak tetap perlu diperhatikan.
Seseorang dapat memiliki niat baik sekaligus memberikan dampak yang buruk.
Sebaliknya, seseorang juga dapat merasa terluka oleh kritik tanpa harus langsung menyimpulkan bahwa orang yang mengkritiknya memiliki niat buruk.
Karena itu, pendekatan yang lebih sehat adalah melihat pola dan dampaknya, bukan hanya menebak niat.
Penutup
Kritik adalah bagian normal dari kehidupan manusia. Kita semua dapat memberikan dan menerima kritik.
Yang menjadi masalah adalah ketika kritik berubah menjadi pola komunikasi yang terus-menerus membuat seseorang merasa salah, tidak cukup baik, atau tidak aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Orang yang sering mengkritik mungkin tidak selalu menyadari bahwa perilakunya sudah menjadi kebiasaan. Sementara itu, orang yang terus-menerus menerima kritik dapat belajar menjadi sangat waspada terhadap kesalahan dan penilaian orang lain.
Memahami mekanisme ini bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tujuannya adalah memahami bahwa cara manusia berbicara satu sama lain dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Dan ketika sebuah pola sudah terbentuk, pola tersebut juga dapat dipelajari kembali.
Sebab manusia tidak hanya mampu belajar dari pengalaman yang menyakitkan.
Manusia juga mampu belajar dari pengalaman yang aman.
